Day 2: Surat untuk diri sendiri sebagai seorang Anak

Rasanya aneh ketika membuat surat terbuka lantas surat itu bukan ditujukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri .. Ok.. Fine! ini adalah tantangan ke dua di tanggal 2 februari. Selain rasanya aneh, saya akan dibawa ke ruang waktu untuk mengingat semua tentang masa kecil.. menengok masa lalu… puluhan tahun yang lalu. Kita pasti ingat ketika kita berusia playgroup, remaja…. tapi kenapa kita tidak pernah ingat perjanjian yang Allah katakan saat kita dititipkan ke rahim ibu dalam masa kandungannya.. di dalam perut yang gelap. Mungkin karena jaringan syaraf kita waktu itu masih menjadi janin, belum terbentuk sempurna. Kalau tahu mungkin akan menjadi hal yang menarik. Bahkan penciptaan manusia saja sungguh sesuatu yang menarik. Langsung saja ya… dengar cerita curahan suratku di tantangan ke dua ini. Bismillah :)!

————-

Ini hari ke dua aku menulis surat terbuka. Kali ini ditujukan bukan untuk seseorang sahabat, kekasih hati, orangtua, ataupun teman tapi surat ini untuk diriku sendiri. Bagaimana tidak kukatakan aneh, saat mendapatkan tantangan kedua ini. Aku yang menulis, lantas aku yang membacanya sendiri. Hahaha..

Menulis surat ini, melemparku jauh , seperti masuk ke dalam lorong waktu. Mengingat kejadian – kejadian konyol, emosional, bahagia, bahkan penyesalan.

Sebagai seorang anak.. sampai detik inipun aku masih merasa belum bisa membahagiakan kedua orangtua. Biarpun setiap gajian aku memberikannya pada mama. tapi itu tak bisa membalas semua pengorbanannya sebagai orangtua. Semua curahan kasih sayang kedua orangtua, tak cukup membalasnya. Yang bisa ku lakukan hanya menjaga nama baik yang beliau berikan saat lahir, menjaga kehormatan yang beliau ajarkan saat masih kecil hingga saat ini, menjaga kebaikan yang beliau contohkan pada kami anak – anaknya. Menjaga amanat yang selalu beliau katakan pada kami putra – putrinya bahwa jangan pernah bertengkar.

Sebagai seorang anak.. Aku masih belum bisa jadi kebanggaan. Belum bisa memberangkatkan haji (walau beliau sudah pergi haji) dengan uangku sendiri ( someday.. I hope).

Sebagai seorang anak.. aku belum sempurna.. tapi aku mau berusaha terus membahagiakan beliau. 🙂

Day 1 : Surat untuk Seseorang yang Penting di masa depan

Bismillah hari Pertama di bulan Februari. Tantangan kali ini ..

Surat pertama yang harus ku buat adalah untuk seseorang yang penting di masa depan. Banyak yang penting dalam kehidupanku.. Allah yang memberikan aku kehidupan ini semua, Muhammad SAW yang senantiasa memberikan ketauladan yang hebat sebagai manusia sempurna ciptaan Allah, dan keluarga kesayanganku yang Allah berikan ke dalam kehidupanku. Aku akan membahas pengertian seseorang yang penting dari sudut pandang jodoh aja ya. Agak abstrak memang.. apalagi kalau di saat lagi kondangan acara keluarga atau hang out bareng temen, gandengannya mana? Langsung tebar senyumann aja deh.. cari makanan haha. Untung hati ini buatan Allah coba kalau buatan india.. goyang lebay deh.  Hei.. sebenarnya aku juga penasaran dengan siapakah dia yang sudah Allah tuliskan di kitab Lauh MahfudzNya.. tapi ketentuan Allah itu akan datang bertepatan dengan apa yang kita butuhkan. I believe it. Always Believe.

baiklah demi tuntutan tantangan, aku akan menuliskannya.. Camera.. Rolling.. Action..

———–

Assalamulalaikum dan apa kabar?

Hai calon imamku… Kamu tahu aku penasaran dengan siapakah nantinya aku bersanding dengan pendamping yang dititipkan Allah yang tertulis di lauh mahfudzNya.. Doakan.. aku akan selalu menjaga apa yang harus kujaga. Dan kau juga. Jaga pandangan, jaga kehormatan.

Hai calon imamku,.. Kamu tahu tidak, aku tahu laki – laki adalah anak kecil di hadapan seorang wanitanya. Bagaimana tidak, bisa seharian main game dengan asyiknya, bisa berteman dengan otomotif kesukaannya atau bisa bebas berkumpul dengan teman – temannya seharian; aku tahu karena aku juga punya adik – adik laki – laki. Haha…Tetapi Bukannya aku manja menuntut ini itu, saat aku butuh, jadilah kau kesatria yang hebat yang bisa melindungiku saat goncangan badai datang, punya waktu menemaniku dalam keseharian. Kau lebih tahu bagaimana sebuah prioritas dan tanggung jawabmu.. lelaki dewasaku.

Hai calon imamku.. jika suatu saat aku marah sehingga membuatmu kesal.. katakan saja… aku tidak sepenuhnya bisa membaca isi hati bahkan saat aku bisa membaca bahasa tubuh mungkin saja aku salah. Lebih baik kau tulis saja pada lembaran – lembaran kertas. Atau katakan secara langsung saat aku sedang mood untuk mendengarkan.. itu butuh waktu.

Hai.. calon imamku…. suatu saat kita kan bertemu di bawah naungan cintaNya. Dan saat itu akan ku katakan aku mencintaimu karena Allah. Tidak sekarang. Karena sebelum diijabkabulkan, syariat tetap membataskan 🙂

#30DaysOpenLetterChallenge

Bismillah…I’m comeback again

Long time, i didn’t write in blog. I come to give challenge for me (if u want follow up, come in #30dayschallenge write to blog). Challengenya atau tantangannya adalah menulis selama 30 hari berturut-turut secara konsisten di blog. Di mulai awal februari ( 1 feb – 2 maret 2015), biar semangat lagi nulis. biar semangat lagi ngeblog. Aamiin.

Kenapa #30dayschallenge write to blog ? Karena kalau ga diberi istilah tantangan kayanya kurang seru. 🙂 . ga deh! tujuan sebenarnya semata-matanya karena ingin konsisten dalam menulis. Supaya ide-ide yang ada di blue print otak bisa tersampaikan sacara kasat mata oleh dunia nyata (alah bahasanya :P)

Ok. Ga perlu banyak cincong lagi. karena cincong enaknya dimakan (pancong kalee :D… pancong itu yang ada dijalanan sambil nyanyi di perempatan lampu merah.. itu mah benc.. *)

Focus! sekarang saatnya daftar challenge apa yang akan ditulis selama 30 hari. Let’s check this out!

tumblr_lm4usvJ5Xp1qc9axgo1_500

Bismillah dengan ini #30days challenge saya buka untuk saya sendiri(come in, if you follow this challenge.. *itung2ngasahbakatdankemampuan). Dengan hastag #30daysopenletterchallenge. (come in, if you follow this challenge.. *itung2ngasahbakatdankemampuan).. 🙂

*pukul_gong*

*berharapkonsisten

Hijab dan Aku

Assalamu’alaikum Hello Word..

Tanggal 3 September 2013 yang lalu, aku merayakan 6th anniversary use hijab. Di katakan perayaan, sebenarnya bukan perayaan. Tapi tanggal itu dimana awal aku memutuskan untuk menutupi mahkota rambut dengan sehelai kerudung di tahun 2007.

Awal september menjadi moment penting bagiku untuk mengazamkan diri menutup aurat dari kepala hingga kaki. Awalnya, Alhamdulillah tak ada yang memaksa. Aku adalah aku. Selama itu tidak melanggar ketentuan. Tak ada tekanan yang membuatku mengubah penampilan bahkan tak ada manusia yang menyuruhku untuk menutup aurat kecuali Ayat Allah yang masih “belum sadar” aku menanggapinya kala itu. Lepas dari putih abu – abu tak lantas membuatku untuk mengubah penampilan sebagai muslimah. Baru setelah kuliah. Pertama masuk perguruan tinggi negeri, Rambutpun mulai dibalutkan hijab. Jilbab, kerudung atau sekarang banyak yang bilang dengan sebutan hijab. Adalah benda yang tak asing menempel di kepalaku sedari kecil. Mengaji adalah rutinitas setelah pulang sekolah pada masa kanak – kanak. Pada saat bermain peranpun aku suka memperagakan memakai hijab dengan berperan seolah bisa baca quran pada usia dini kala itu. Meskipun bukan sekolah berbasis sekolah agama tapi sekolah negeri pun setiap jumat mewajibkan muslimahnya memakai kerudung . Dari dulu, hijab dan aku bukan teman yang asing.

6 tahun. Bukan waktu yang lama pemakaian hijab. Tapi bukan waktu yang sebentar untuk terus memperbaiki diri . Awal – awal pemakaian adalah dari bergo. Sytle andalan adalah jeans atau celana bahan kain di tambah kaos atau kemeja. Seiring bertambahnya ilmu, tahun dan usia, stlye berubah. Tak lagi memakai bergo tapi kerudung/jilbab. Tak lagi memakai celana tapi beralih ke rok. Aku lupa kapan tepatnya aku menanggalkan celana lantas beralih ke rok sampai hari ini dan selanjutnya. Aamiin

Kini hijab telah banyak diminati. Alhamdulillah para muslimah banyak yang akhirnya memutuskan untuk menutupi rambut indahnya dengan sehelai kain tebal di atas kepalanya. Itu berita positif. Namun setiap pemberitaan baik, selalu akan terselip berita dari sisi negatif. Ya, zaman berubah. Perkembangan hijab yang modist dan sylist masa itu tidak diimbangi dengan tuntutan agama yang mengharuskan para muslimah menjulurkan jilbabnya sampai ke dada alias memakai jilbab syar’i. Bukan di perintahkan untuk dililit, terlihat lehernya (karena itu bagian dari aurat wanita), bahkan menyerupai punuk unta. Salahkah para muslimah yang berpenampilan seperti itu?

Bicara salah dan benar. Aku tak pantas menjudge manusia. Masing – masing manusia sebenarnya paham bagaimana seharusnya mereka bertindak . Namun ada sisi arogan dalam diri dan merasa cukup dengan ilmunya. Apalagi yang memberitahukan mereka adalah orang yang bagi mereka anggap tidak penting, siapa elo, gw lebih tahu, dan ga usah urusin pribadi orang (biasanya mereka akan berbicara seperti itu.. 🙂

Dengan bertambahnya ilmu, pelajaran, waktu, dan usia. Banyak kok para muslimah yang aku tahu sebagai hijaber bloger atau selebgram. Mereka mengubah penampilan hijabnya menjadi lebih menutupi dadanya. Jika kita melihat para muslimah yang berpenampilan hijaber “aneh” style. Jangan langsung menjudge dulu, mungkin mereka baru memulai hijabnya. Kasihan kan baru memulai sudah di judge macam – macam kasihan. Ilmu itu sedikit – sedikit di ajarkannya lebih baik. Daripada banyak entar mual bagi pemula. Kalau yang sudah lama kamu tahu tapi masih gitu – gitu aja cara hijabnya (tak menutup dada). Jangan langsung menjudge mereka salah. Lebih baik mendoakan yang terbaik siapa tahu nambah saudara daripada menjudge cuma mendapatkan musuh.

Ok. Sampai disini dulu tulisannya. See u next again. Sudah dzuhur. Selamat menunaikan ibadah solat dzuhur. Jangan lupa makan siang.

Have a nice day

Ku Izinkan Kau

Bulan telah menggantung elok di langit malam. Semilir angin menerbangkan lembut dedaunan kering di halaman. Sepi memang namun terlupakan saat melihat bulan hari itu. Begitu mempesona. Terang. Sesosok wajah yang ku tahu samar di bawah sorotan lampu. Tanpa aku sadari, sedari tadi rupanya telah berdiri puluhan senti di samping. Menatap bulan bersama yang kala itu terlihat bulat sempurna. Menatap tajam melirik padaku. Bertanya sesuatu, “Kenapa kau suka menatap bulan?”
Kualihkan pandang pada bulan “kau tahu tidak, Setiap kali aku melihatnya, hatiku riuh. Bulan ibarat amalan dan langit malam yang hitam itu ibarat gambaran dosa – dosaku” Aku menghela nafas, “Lihat. Hitam itu lebih banyak daripada sinar bulan itu. Apa amalanku yang sedikit itu juga bisa bersinar seperti bulan itu?”.
“Semoga amalan kita yang sedikit ini bersinar seperti bulan yang kau lihat itu.” Katanya menenangkan.
Aku menggangguk. Menatap kembali bulan purnama malam itu.
“Mari kita tahajud malam ini agar amalan kita yang sedikit ini bisa bersinar seperti bulan itu. Dan… Izinkan aku jadi imammu?” Lirihnya dengan tatapan hangat.
Ada dada yang seketika sesak. Ada airmata yang berusaha agar tak keluar walau terasa butiran bertengger di sela mata. Ada hati yang ingin berbuncah senang. Beberapa detik saat hatiku bercampur rasa itu. Aku hanya mengiyakan dengan isyarat tanpa kata. Dalam hati, aku lisankan sesuatu. Siap jadi makmummu. Dan Bulan masih takzim menggantung elok di langit malam. Semilir angin masih tetap menerbangkan daun kering juga debu di halaman. Kali ini tak lagi sepi. Ada suara. Suara….. yang menggetarkan jiwa. Setitik air mata jatuh perlahan.

KRIIIIING….. KRIIIIING. Jam berdentang kencang. Tanganku berusaha meraba – raba letak pasti jam itu. Berhasil. Meraih jam berwarna jingga. Membuka mata pelan-pelan. Menyeka butiran airmata yang keluar. Terlihat waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Baruku sadari sesuatu. Itu semua mimpi. Yang kata orang hanyalah bunga tidur. Mungkin bunga tidur yang bisa jadi kesampaian saat berani “Ku izinkan kau jadi imamku.”

***
Nure B. Mahmud
1 Rajab 1434

Dari Hati Ke Hati

Gambar“Kalau kau ingin menghakimiku, menilaiku macam kakak- kakak dalam forum tertutup itu, Maaf.. aku sedang tak ingin berdebat” Katanya saat kutemui ia di dekat danau senja ini. 

Aku tersenyum. Wajahnya menatap curiga. Memang bukan saat yang tepat untuk membicarakan sesuatu di saat hatinya masih menutup. Lagipula aku pernah dapat suatu pelajaran yang berharga dari seseorang jika kau sedang mendapati seseorang keras hatinya, jangan lawan pula dengan keras. Batu di timpa batu tak akan lumer malah bisa jadi pecah. Dalam situasi Ini bukan cara yang tepat untuk menasihati atau menggurui. Lagipula sebagian orang tak senang hati jika merasa dirinya digurui. kalau ia sudah mau, bisalah berbicara dari hati ke hati. 

Aku duduk mendekat ke arahnya. Menepuk bahunya. Memandangnya sekilas lantas, memandang jauh ke dalam air danau yang damai. Angin berhembus perlahan membelai lembut kerudung kami. Di bawah teduhnya rindang pohon dekat danau. Danau? Aku tahu seberapa dalam danau di kampus ini, tapi seberapa dalam hati seseorang? Siapa yang tahu.

Hatinya mungkin masih tersakiti. Wajar saja, kali bertemu kepadaku, ucapan tajam bak menghunus hati. Forum tertutup itu mungkin menghujam jantungnya yang terdalam. Manalah mau ia mengingat kejadian itu lagi. Aku masih ingat rembasnya air yang keluar dari pelupuk mata sipitnya. Kala itu, pertemuan sore di acara mentoring berubah menjadi tegang. Ada suatu permasalahan yang bagi sebagian besar orang wajar tapi bagi aktivis dakwah, ini dianggap persoalan yang bukan main-main. Ia, kedapatan menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang bukan makhromnya.

“Apa benar?”

“Kamu tahu kan Ukh, itu mendekati zina”

“Dalam islam, pacaran itu dilarang, apalagi ini sambil 

“Kita bukannya benci ukhti, kita sayang kamu. Sayang, kita wajib menasihati dalam kebaikan”

“Beruntung ukh, Kamu masih diingatkan kesalahannya di sini, nant ketika hari kiamat, manusia tak lagi nasihat menasihati”

Ia, akhirnya berkata, “Terima kasih Kakak telah menasihatiku, Tapi maaf ini urusan pribadi aku dan Kakak tak perlu ikut campur”. Ia pergi meninggalkan forum dengan airmata yang masih merembas. 

Saat inipun, saat aku bertemunya disini. Wajahnya masih tak bersahabat, Ia masih tak mau banyak di ganggu sejak peristiwa itu. 

“Sepertinya kamu lebih dari paham ukhti, soal itu, soal bagaimana seharusnya hubungan antara lelaki dan perempuan” Kataku sambil menatap wajahnya yang masih berpaling melihat danau yang tenang.”Kamu sudah dewasa dalam menentukan sikap, Kamu juga paham betul bagaimana kerugiannya bersentuhan dengan yang bukan makhrom. Kita hanya mengingatkan suatu hal”. 

Aku merunduk, “Jujur aku kecewa mendengar kabar itu. Bidadari Allah patah sayapnya. Budaya barat bukan lagi milik mereka, tapi tergenggam pula oleh. Yang subhat boleh jadi dihalalkan. Yang haram kini di  halalkan hanya karena terlihat wajar dalam masyarakat umum, Dimana engkau yang dulu, Ukhti? Yang setia menjaga izzah. Yang serta merta menolak bersentuhan dengan yang bukan mukhrimnya”

Mataku berkaca. Air matanya juga berkaca-kaca. Tangannya menggenggamku seraya berkata, “Terima kasih, ukhti sudah berbincang dari hati ke hati, Aku manusia yang luput dari salah, Maaf” mengakhirinya dengan sebuah pelukan di dekat danau.

 

*Untuk ukhti di luar sana, yang menganggap pacaran hal lumrah. Sekali-kali ayat Allah di buat bukan untuk mengekang tapi memagari sentuhan dari seseorang yang bukan halalnya.

n.b : Bagi yang belum menikah, semoga didekatkan jodohNya oleh Allah SWT. Bagi yang pacaran, lebih banyak meruginya.. #UdahPutusinAja